SUARESAMBAS.COM – Meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Sambas bukan lagi sekadar kabar duka, melainkan sebuah alarm darurat bagi seluruh elemen daerah. Fenomena ini menandakan bahwa sistem perlindungan anak yang ada belum berjalan sebagaimana mestinya, sementara anak-anak justru dibiarkan tumbuh dalam situasi yang tidak aman. 24/01/2026.
Wakil Presiden Mahasiswa Poltesa, Neni menilai kekerasan terhadap anak bukan persoalan individual semata, melainkan kegagalan kolektif. Ketika kasus demi kasus terus bermunculan, negara, masyarakat, dan keluarga harus berani bercermin dan mengakui bahwa ruang aman bagi anak masih sebatas jargon.
“Anak adalah kelompok paling rentan. Ketika mereka menjadi korban kekerasan, yang gagal bukan hanya pelaku, tetapi juga sistem yang seharusnya melindungi,” ujarnya.
Menurutnya, faktor ekonomi, rendahnya literasi pengasuhan, serta lemahnya pengawasan dan penegakan hukum sering kali dijadikan alasan, namun tidak pernah diselesaikan secara serius. Pemerintah daerah dinilai masih lebih reaktif ketimbang preventif, sementara upaya pencegahan dan edukasi belum menyentuh akar persoalan.
Neni mendesak Pemerintah Kabupaten Sambas untuk tidak lagi bersikap normatif. Penguatan lembaga perlindungan anak harus disertai anggaran yang memadai, mekanisme pengaduan yang benar-benar ramah anak, serta jaminan penanganan kasus yang cepat, transparan, dan berpihak pada korban.
Lebih jauh, lembaga pendidikan dan aparat penegak hukum diminta mengambil peran aktif, bukan sekadar hadir setelah kekerasan terjadi. Edukasi pengasuhan tanpa kekerasan, pengawasan lingkungan, serta keberanian menindak tegas pelaku harus menjadi prioritas bersama.
“Jika hari ini anak-anak Sambas tumbuh dalam ketakutan, maka kita sedang mempertaruhkan masa depan daerah ini. Kekerasan terhadap anak adalah kejahatan kemanusiaan yang tidak boleh ditoleransi,” lanjutnya.
Sebagai bagian dari elemen mahasiswa, Neni menyatakan komitmennya untuk terus mengawal isu perlindungan anak melalui advokasi, kontrol sosial, dan kampanye kesadaran publik.
“Kami juga mengajak seluruh masyarakat untuk tidak lagi memilih diam, karena diam adalah bentuk pembiaran terhadap kekerasan itu sendiri”, tegasnya.
Penulis : Mardiansyah
Editor : Mardiansyah









